oleh

Dampak Pandemi, Permintaan Asparagus Menurun Drastis

BADUNG NEWS-

Asparagus, menjadi salah satu komoditi pertanian andalan Badung Utara, tepatnya Desa Plaga. Sejak tahun 2010 silam, para petani Asparagus Desa Plaga terus berproduksi, dan dapat melayani kebutuhan hotel-hotel dan konsumsi rumah tangga untuk wilayah Denpasar serta Badung Selatan.

Dalam meningkatkan produktifitas Asparagus, para petani Asparagus Desa Plaga bergabung dalam satu wadah koperasi Tani Mertanadi dalam membudidayakan dan memasarkan Asparagus dari kebun mereka.

I Wayan Supariasa yang dipercaya menjadi ketua Koperasi Tani tersebut. mengaku, dari 125 anggota koperasi, jumlah yang produktif terus menurun dan hingga kini tinggal 46 petani yang masih bertahan membudidayakan asparagus.

Baca Juga  Hot Dog Water Sport Tetap Beroperasi Meski Karyawan tak Digaji

“Petani Asparagus yang masuk anggota koperasi ada 125 orang, tetapi yang produktif ada 46 orang,” ungkap Wayan, yang ditemui di Desa Plaga Petang, Badung, Sabtu, 7 November 2020.

Wayan mengungkapkan, budidaya asparagus  di desa Plaga berawal dari  kerjasama antara Pemkab Badung serta pembinaan ahli pertanian dari Yayasan International Cooperation and Development Fund (ICDF) dari Taiwan pada tahun 2010.

Para Petani dibina dan dilatih serta diberikan bibit asparagus untuk dibudidayakan. Berkat keuletan serta tata kelola yang baik, Asparagus Desa Plaga menembus pasar Nasional maupun manca negara.

Lebih lanjut, Wayan memaparkan, meskipun ditengah pandemi permintaan pasar masih tetap berjalan. Hanya saja agak berkurang dari biasanya dan harganya agak turun, namun tidak terlalu anjlok seperti jenis sayuran lainnya.

Baca Juga  13 Warga Karangasem Terkonfirmasi Positif Covid-19

Meskipun permintaan Hotel dan Restaurant di Bali turun drastis karena pandemi, namun pengiriman Asparagus ke Jakarta hampir masih stabil walaupun ongkos kirimnya jauh lebih mahal di saat pandemi ini.

Dalam situasi sekarang, harga beli asparagus ke Petani perkilonya berkisar Rp. Rp. 30.000- Rp. 65.000, tergantung permintaan pasar dan situasi yang ada saat ini. Bagi Petani yang giat, Penghasilan pasti ada setiap hari, walaupun sedikit. Ini yang menjadi pembeda antara Asparagus dan sayuran lain yang dipanen musiman.

Baca Juga  Ormas ‘AMP NKRI Semeton Bali’ Tegas, Dalam Pemilu 2024 tak Berafiliasi kepada Partai maupun Capres Manapun

Wayan juga menjelaskan tentang kendala yang mereka hadapi saat panenan Asparagus melimpah namun permintaan pasar rendah. Mereka tak punya pilihan, satu-satunya menjual hasil asparagus kepada tengkulak dengan harga yang jauh lebih rendah.

“Harapan ke Depan, sering kita sampaikan baik di kabupaten, propinsi maupun Kementrian namun sampai sekarang belum ada jawaban yaitu bagaimana produk Asparagus ini bisa diolah, diawetkan dengan tidak mengurangi kualitas. Pada saat-saat tertentu, produk kita melimpah tapi permintaan Pasar rendah. Jadinya produk kita tidak terserap semua. Kita mengharapkan adanya fasilitas untuk mengolah produk kita pada kondisi seperti itu,” tutup Wayan. **Robi

Komentar

News Feed