oleh

Gegendu, Mahluk Mitologi Jadi – Jadian Berkaki Tiga

Foto ilustrasi mahluk jadi jadian yang bernama Gegendu.

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Makhluk mistis mitologi jadi jadian yang bernama Gegendu ini bukanlah jenis leak(mahluk mistis dari Bali) yang suka menyakiti manusia. Leak jenis ini hanya suka menakut nakuti saja.  Menurut penuturan Jro Mangku Budiana, seorang pemangku dan juga penekun spiritual muda asal desa Bugbug Karangasem, bahwa Gegendu merupakan ilmu Leak tingkat Lima. Ada 2 jenis perwujudan mahluk jejadian  berkaki tiga ini, dia bisa berwujud dengan kepala mirip Kerbau atau Kuda. Perwujudannya hanyalah tipuan semu semata karena Gegendu sejatinya manusia yang berjalan menggunakan tongkat.

Menurutnya, laku ritual dalam penjelmaan menjadi leak Gegendu, orang tersebut akan berjalan menggunakan tongkat, salah satu tangannya dibawa kebelakang punggung seperti posisi istirahat di tempat, istilah  Balinya “nyangkling”, kemudian ia berjalan mengitari sesajen sambil membaca doa perubahan wujud dan tertawa, perlahan tubuhnya akan membesar dan ditumbuhi bulu, tangannya yang dibawa ke belakang akan menyatu dengan tubuhnya, sedangkan tangannya yang memegang tongkat akan berubah menjadi kaki hewan yang berkuku, wajahnya pun akan berubah menjadi kepala kuda atau kerbau, suara tawanya yang terkekeh kekeh serak menyeramkan. Jika mahluk ini berjalan suaranya “dug dug gledug….. dug dug gledug…. karena dia berjalan dengan satu kaki di depan dan dua kaki lainnya di belakang, maka perwujudan Gagendu pun telah berhasil.

Baca Juga  Bandara Ngurah Rai Layani 92 Ribu Penumpang Selama Libur Panjang

Dijelaskannya kembali bahwa, orang yang bisa berubah wujud menjadi leak Gegendu artinya orang itu sudah mencapai tahapan menengah dalam mempelajari ilmu leak, sarana sesajen digelar biasanya pada waktu ‘sandikala’ yaitu pada saat hari menjelang malam atau mungkin di jaman sekarang pindah ke tempat yang sepi ataupun di kuburan.

Apabila suatu saat kita tak sengaja bertemu dengan mahluk ini hal yang bisa kita lakukan adalah dalam keadaan kepepet ambil tanah ditempat kita berada kemudian torehkan dikening dan dilidah sambil mengucapkan mantra dalam bahasa sansekerta pengleakan “Ong angadeg Bhatara Guru ring pabahan ingsun, tan sah angungkuli sarwa kadaden desti, amungkah sakewehing guna kawisesan, muwah kasaktian. Manembah pwa kita mangke sing teka pada anembah ring awak sariranku Ong Ah 3x poma poma poma. Begitulah bunyi mantra yang harus diucapkan, jelas Jro Mangku pada media ini Jumat(13/11/20) di rumahnya.

Baca Juga  Wakapolda dan Tujuh Pejabat Utama di Polda Bali Diganti

“Akan tetapi pengucapan mantra mantra sakti tidaklah hanya bisa dihafal dan diucapkan begitu saja tanpa adanya taksu dalam diri manusia itu sendiri maka tidak disarankan menerapkan mantra-mantram secara sembarangan tanpa bantuan seorang pembimbing laku spiritual,” paparnya, sambil menerawang seakan mengingat sesuatu.

Dijelaskan lebih jauh oleh Jro Mangku, bahwa penerapan setiap ilmu termasuk ilmu kebathinan diperlukan ketekunan agar mempunyai taksu dan bertuah. Ajaran Hindu menjabarkan cara-cara mendapatkan pengetahuan dengan benar dengan jalan  Gurutah (belajar dari seorang guru/pembimbing), Sastratah (belajar dari sumber lontar/buku-buku ilmu pengetahuan), selanjutnya kemampuan pengembangan diri dan pengalaman seseorang serta timbal balik yang didapat dimasyarakat Swatah dan Paroktah. Terapkan ilmu pengetahuan demi kesejahteraan bukan untuk merusak alam ataupun isinya. (ger/bfn)

Komentar

News Feed