oleh

Dipercaya Sembuhkan Penyakit, Tradisi Unik Aci Tatebaan Desa Adat Bugbug

Aci Tatebahan Desa Adat Bugbug, 26 April 2021.


KARANGASEM, Balifactualnews.com – Ungkapan rasa syukur dan menghormati alam yang telah berjasa memberikan kehidupan bagi seluruh umat manusia, diungkapkan dengan berbagai cara. Di Desa Adat Bugbug, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem misalnya, Ungkapan ras terimakasih terhadap alam tersebut diwujudkan dengan menggelar tradisi atau Aci/upacara  yang disebut Aci Tatebahan.

Sebagai warisan turun temurun,  tradisi Tatebahan ini sangat erat kaitanya dengan kehidupan pertanian masyarakat setempat. Dalam  pelaksanaannya pun tergolong unik, dengan mempergunakan media pelepah pisang, krama/masyarakat akan saling pukul sampai pelepah pisang tersebut hancur. Aci Tatebahan ini dilaksanakan setiap tahun, bertepatan pada penanggal 13 atau 14 atau 15 sasih Jiyestha nuju Beteng. Tahun 2021 ini pelaksanaannya jatuh pada Senin 26 April 202.

Jro Wakil Kelian Desa Adat Bugbug, Wibagha Parhyangan, I Wayan Artana, S.Pd., M.Pd menjelaskan, Aci Tatebahan ini sebagai bagian yang tidak lepas dari aktifitas keseharian penduduk di sektor pertanian.  Dalam wujud syukur itu masyarakat Bugbug saat melaksanakan Aci Tatebahan, mempersembahkan sesajen yang bersumber dari hasil sawah dan kebun seperti, ubi, kelapa, talengis atau sisa olahan kelapa, kacang kacangan, yang diolah menjadi menjadi lawar dan ubi diolah dicampur dengan bumbu dan parutan kelapa sehingga menjadi pengganti nasi.

Baca Juga  Wagub Bali Ajak Media Tulis Berita Positif Terkait Covid-19

“Hal ini sebagai ucapan dan ungkapan rasa syukur, karena sampai saat ini kita masih diberikan rasa untuk dapat menikmati hasil bumi yang begitu melimpah dengan hasil baik  dan semua itu atas restu dan karunia Ida Sasuhunan ( Tuhan Yang Maha Esa ),” ungkapnya pada Senin 26 April 2021.

Lebih jauh , I Wayan Artana yang juga Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Amlapura ini menjelaskan, Dalam pelaksanaan upacara atau Aci Tatebahan ini sejatinya juga sebagai ungkapan rasa tulus serta berterimakasih kepada tabe pakulun“ Ida Bhatara Lingsir Gde Gumang “ yang sudah menganugerahkan ilmu bertani dan berkebun sehingga sampai sekarang tetap diterapkan oleh petani,  serta sebagai wujud bhakti khususnya kepada Putra Ida Bhatara Lingsir Gde Gumang yaitu tabe pakulun Ida Bhatara Gde Praja Petak yang juga disebut Bhatara Gde Bandem.

Diceritakannya, bahwa pada jaman dahulu, Ida Bhatara Gde Gumang saat belum mencapai Moksha dan masih berperaga manusia mengajarkan cara atau ilmu pertanian kepada para penduduk yang tinggal diwilayah dilereng Bukit Juru atau Bukit Gumang. Karena atas jasa beliau itulah masyarakat melaksanakan Aci Tatebahan.

“Ida Bhatara Gde Praja Petak di Desa Adat Bugbug berstana di wilayah Lumpadang. Pura kecil tempat disungsugnnya beliau tersebut bernama “Pura Kahuripan Toh Jagat“.  Sesuai dengan nama pura tersebut, dimana tabe pakulun Ida Bhatara Lingsir Gde Gumang menitah atau memerintahkan putra beliau untuk menjaga atau ngetohin jagat Bugbug, menjaga agar para petani  dan penggarap kebun dapat bertanam dan memetik hasil bumi,” urainya kepada media ini.

Baca Juga  Sebelas Karya Seni Masyarakat Badung Dapat Hak Paten

Ada beberapa hal lain yang mendorong dilaksanakannya Tradisi Tatebahan ini, disampaing sebagai emdia untuk memohon kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan, adanya kekhawatiran akan bencana dan bahaya lainnya yang berhubungan dengan alam gaib. Tak hanya itu implementasi dalam kaitan tradisi ini adalah guna mempertebal keyakinan terhadap ajaran Hindu, juga sebagai media mempererat hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya.

“Dalam ilmu medis, pelaksanaan Tatebaan tersebut bisa melancarkan peredaran darah.  ketika tubuh terkena sabetan pelepah pisang dengan kekuatan tertentu akan menyebabkan peredaran darah ditubuh lebih lancar. Sehingga ketika aliran darah berjalan dengan baik tanpa hambatan di seluruh tubuh kita pun lebih sehat. Dan pelepah daun pisang juga mempunyai makna sebagai wujud keteduhan, wujud berlangsungnya kehidupan. Wujud pengayoman,” urainya.

Wayan Artana juga menjelaskan, dalam proses Aci Tatebahan ini, melibatkan seluruh krama banjar adat di Desa Bugbug. Lawar ubi dan lawar kacang dibuatkan karangan yang akan dipersembahkan di pura Balai Agung, serta di pola menjadi sesajen dalam bentuk 2 buah wongwongan yang nantinya dipersembahkan di natar Balai Agung wujud persembahan kepada plancah pangiring “ Ida Bhatara Gde Praja Petak (ngemit Jagat Bugbug)  dan Ida Sang Taruna Bali (Ngemit Telaga Ngembeng) “.

Baca Juga  Kejaksaan Negeri Jembrana Musnahkan 964 BB Perkara yang Sudah Inkrah

Uniknya sesajen ini wujudnya beda seperti sesajen pada umumnya. Wujud unik itu berupa 2 buah wongwongan seperti manusia dimana kepala, badan,  tangan dan kaki terbuat dari uraban ubi, sedangkan rambut wongwongan terbuat dari lawar kacang serta mata, hidung , mulut serta telinga terbuat dari talengis. Prosesi ini dipuput oleh mangku pura desa, dihadiri oleh Jro Bandesa, Jro Kelihan Desa, Jro wakil KDA Wibagha Parhyangan, prajuru, ancangan desa, serta utusan dari masing masing banjar adat. Dan setelah upacara digelar lawar ubi dan lawar sayur atau kacang-kacangan ini,  sebagian juga dinikmati oleh seluruh krama banjar secara Bersama sama atau megibung.

“Makna Aci Tatebahan kalau mencermati dari kata “Tatebahan” mempunyai banyak makna. Salah satunya kalau dilihat dari sudut yadnya yang dipersembahkan, kata Tate/tata artinya cara, kemudian “Bahan” punya makna sarana. Secara sederhana kita memaknai kata “ Tatebahan “  sebagai cara dalam mensyukuri karunia Ida sesuhunan karena hasil bumi yang baik dengan cara melakukan persembahan yadnya secara tulus dan bergembira,” pungkas Artana. (ger/bfn)

Komentar

News Feed