oleh

Tari Sakral Memanah Desa Adat Bungaya, Tradisi Memohon Kesuburan

Tari Sakral Memanah, Desa Adat Bungaya, Sabtu 24 April 2021.


KARANGASEM, Balifactualnews.com – Sebagai salah satu Desa Tua, Desa Adat Bungaya Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, memiliki tradisi-tradisi unik dan sakral. Salah satunya adalah Tari sakral Memanah yang di gelar saat puncak upacara Pamiyosan di Pura Banjar Tengah bertepatan Hari Raya Kuningan pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu 24 April 2021. Tari Memanah ini bermakna untuk memohon berkah kehadapan Hyang Kuasa dengan cara membidik kemudian memanah titik titik kesuburan  dari sembilan penjuru mata angin.

Atas petunjuk niskala, kali ini para penari berjumlah enam orang, terdiri dari para teruna atau pemuda dari Banjar Adat Tengah, dan ditarikan di natar Pura Bale Banjar Adat Tengah, Desa Adat Bungaya. Dilihat dari segi busana yang dikenakan pun tergolong unik. Para penari mengenakan kamben lengkap dengan kampuh, menggunakan gelung di kepala, namun tanpa pakaian atasan. Semua penari membawa senjata panah, lengkap dengan busurnya. Mereka menarikan tari sakral ini selama 10 menit.

Baca Juga  BPD Bali Berikan Bantuan Ambulans di Jembrana

I Komang Purna, salah satu prajuru Adat Banjar Adat Tengah mengatakan, sebelum tari sakral dimulai, Pamangku Pura Banjar Tengah, Desa Adat Bungaya, Jro Mangku Gelgel, lebih dulu menggelar ritual matur piuning, sebagai simbolis untuk memohon petunjuk niskala. Dan berdasarkan petunjuk niskala, hanya enam teruna yang diperkenankan tampil menarikan Tari Sakral Memanah tersebut.

Kemudian ke enam teruna yang terpilih, masing-masing telah siap memegang busur dan anak panah, bagai Arjuna yang siap untuk memohon tirta Amertha. Gerakan-gerakan dalam tarian itu juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Pemurah (Hyang Kuasa).

Baca Juga  Penutupan TPA Suwung Diundur sampai 28 Februari 2026

“Misalnya, sebelum membentangkan anak panah untuk membidik hasil bumi yang merupakan karunia Sang Maha Pemurah, penari terlebih dulu menyentuhkan ujung anak panahnya ke ibu pertiwi (ke tanah). Menyentuhkan ujung anak panah ke pertiwi ini sebagai simbolis memohon restu. Sebab, seluruh hasil bumi datangnya dari ibu pertiwi,” ungkap salah I Komang Purna.

Daya magis tari sakral tersebut semakin terasa, saat busur dibentangkan ke sembilan arah penjuru mata angin, secara bergantian. Diawali gerakan menghadap ke utara dengan membentangkan busur lalu melepas anak panah, disusul ke arah timur, arah selatan, arat barat, arah tengah, kemudian arah timur laut, arah tenggara, arah barat daya, dan arah barat laut.

Baca Juga  Hujan Lebat Tak Surutkan Semangat Wagub Giri Prasta Buka Porprov Bali XVI/2025

Lebih jauh I Komang Purna kembali menjelaskan, tradisi atau kesenian sakral Tari Memanah ini memang dipentaskan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah kesuburan yang dilimpahkan Ida Batara Sesuhunan (Hyang Kuasa) kepada umatnya. Anugerah itu kemudian dikembalikan ke Sang Maha Pemurah melalui ritual Tari Memanah ini. Selanjutnya, melalui Tari Memanah pula, kesuburan itu kembali dimohon.

“Tradisi ini digelar rutin setiap enam bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali), setelah dilaksanakan Tari sakral Memanah, dilanjutkan dengan pementasan Tari Dadap, yang dilakukan krama sepuh,  barulah dilaksanakan persembahyangan bersama yang dipuput langsung oleh Jro Mangku Gelgel,” papar I Komang Purna. (ger/bfn)

Komentar

News Feed