BADUNG – Setelah hadir di Jakarta, kini Debz Boutique resmi dibuka di Bali, tepatnya di Made’s Warung, Seminyak, Badung. Peresmian dilakukan dengan pemotongan tumpeng dan pita yang disaksikan para tamu undangan, Jumat (23/12/2022).
Pemilik Debz Boutique, Deby, mengatakan grand opening butik dengan spesialisasi batik tulis dan cap ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan batik ke mancanegara.
Wanita yang sudah mendalami batik sejak 2015 ini beralasan bahwa Pulau Bali sebagai pusat pariwisata bagi turis asing sehingga merupakan tempat yang tepat untuk memperkenalkan batik sebagai fashion modern.
Menurutnya, banyak turis asing yang lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia itu sendiri.
“Banyak turis asing yang tidak tahu bahwa Bali itu ada di Indonesia. Kebanyakan mereka tahunya Bali itu bukan bagian dari Indonesia,” tutur dia.
Deby juga mengaku ingin membuat batik menjadi lebih kasual dan tidak hanya dikenakan saat acara-acara formal.
“Kita tahu ya pasti kebanyakan batik dipakai di acara-acara formal seperti G20 kemarin. Padahal batik juga bisa dipakai di acara biasa yang lebih kasual,” tutur dia.
Deby mengungkapkan bahwa batik yang dipamerkan di Debz Boutique ini berasal dari Solo dan Jogja. Adapun produk batik yang dibuat di butik ini bermacam-macam mulai dari baju, dress, setelan, tas, bahkan bucket hat.
Untuk motif batiknya bermacam-macam namun didominasi oleh motif alam seperti dedaunan dan flora. Teknik membatiknya pun beragam, mulai dari batik tulis hingga batik cap.
Jaga Keaslian Batik
Menyambung dari teknik membatik, Deby menegaskan dirinya menjaga kualitas batik dengan tidak menggunakan teknik print (cetak).
“Di sini tidak ada batik print ya. Kami mau menjaga keaslian batik. Jadi memang untuk proses pembuatan satu produk itu memakan waktu sampai dua minggu hingga benar-benar rampung,” Deby menguraikan.
Dengan keaslian dan kualitas yang ditawarkan, produk batik di Debz Boutique dibanderol dari Rp 1,2 juta sampai dengan Rp 3 juta per item.
Deby mengaku tidak takut untuk mematok harga yang cenderung mahal karena memang target pasarnya adalah menengah ke atas. Namun, dirinya menegaskan harga tersebut sesuai dengan kualitas serta proses pembuatan yang memakan waktu dan usaha yang tidak sedikit.
“Ya orang-orang kan tahunya itu mahal, tapi mereka tidak tahu proses pengerjaan di balik itu. Ini kan batik lukis, jadi harus hati-hati dan teliti,” jelasnya.
Ke depan, dirinya berencana untuk menggandeng atau bekerja sama dengan UMKM di Bali yang juga memiliki produk utama, yakni endek. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk lebih memperkenalkan produk buatan Indonesia ke mancanegara.
Acara peresmian butik ditutup dengan fashion show oleh beberapa model yang mengenakan batik produksi Debz Boutique. (zil)










