BALI – International Conference on Circular Economy and SustainabilIty (ICCES) atau Konferensi Internasional tentang Ekonomi Sirkular dan Berkelanjutan digelar pertama kali di Indonesia, dan Bali menjadi tempat hajatan.
Konferensi yang diikuti 150 delegasi utusan dari 15 negara termasuk Indonesia sebagai tuan rumah itu dirangkai dengan penganugerahan Indonesian Circular Economy Award (ICEA) 2025 Berbasis ISO 59000 Series kepada korporat nasional yang telah menerapkan model ekonomi sirkular.
Ketua Indonesia Circular Economic and Sustainability (ICEST) Institute, Suharman Noerman, mengatakan, ICEA 2025 yang diinisiasinya itu bermitra dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) terkait diluncurkannya standar ISO 59000 tentang ekonomi sirkular (Circular Economic).
“Kami melakukan sosialisasi dan edukasi kepada stakeholders pembangunan seperti dunia usaha. ICEA 2025 dilakukan perdana secara internasional karena merespons lima standar ISO baru termasuk ISO 59000,” ujarnya ditemui di Grand Mercure Bali, Seminyak, Badung, Selasa (18/11) malam.
Standar ISO 59000 untuk ekonomi sirkular mulai diterbitkan pada 22 Mei 2024 oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO), dengan partisipasi dari para ahli dari lebih dari seratus negara, menyediakan panduan global pertama untuk ekonomi sirkular, mencakup terminologi, prinsip, dan implementasi bisnis.
Noerman mengatakan ekonomi sirkular merupakan sebuah sistem dimana material tidak pernah menjadi limbah dan segala sesuatu yang terdapat di alam akan terus diregenerasi. Kebalikannya, adalah ekonomi linear, yang oleh pemangku kepentingan pembangunan global dikhawatirkan memunculkan banyak risiko jika model ekonomi linear tetap berlanjut.
“Para pemangku kepentingan pembangunan global menyebut terjadi paling tidak empat hal kalau sistem ekonomi linear dipertahankan, yakni pemanasan global (global warming), polusi, menipisnya sumber daya alam, dan makin hilangnya aneka ragam hayati,” terang Noerman.
Ia menambahkan pada konferensi ini juga diberikan award kepada 20 perusahaan meliputi 44 program Sirkular Ekonomi dan 4 Akto (perorangan) yang telah menerapkan praktik terbaik ekonomi sirkular di perusahaan.
Secara terpisah, Plh. Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menjelaskan kegiatan bertema ekonomi sirkular selaras dengan komitmen pemerintah berupaya mendorong sosialisasi, kesadaran dan adopsi standar ISO 59000 serta mengembangkan roadmap jangka panjang dalam mencapai Emisi Rendah Karbon (Net Zero Emission) pada 2060.
“Kita perlu gotong royong semua pihak untuk mencapai target Emisi Rendah Karbon (Net Zero Emission), baik dari Pemerintah, perusahaan (BUMN & swasta), Akademisi, Pelaku Usaha, serta sektor industri yang terkait.
Pihaknya menyambut baik inisiatif ICEA 2025 berbasis ISO 59000, hal ini mendorong kesadaran dan praktik keberlanjutan yang lebih sempurna dalam menuju pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta net zero emission yang telah menjadi komitmen bersama dalam waktu yang bersamaan. (*)








