oleh

Kompetisi Mini Panjat Tebing untuk Mengukur Endurance Atlet

 

BALI – Mini Competition Climbing (Kompetisi Mini Panjat Tebing) Road to PON XX/2021 yang diselenggarakan Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bali bertujuan untuk mengukur endurance dan kemampuan atlet sebelum mereka turun di PON XX/2021 Papua.

Ketua Umum Pengprov FPTI Bali Putu Yudi Atmika mengatakan, kompetisi di Lintasan Panjat Tebing Alit Saputra, Tabanan ini digelar karena selama pandemi Covid-19 atlet panjat tebing utamanya yang dipersiapkan bertanding di PON Papua, tidak mempunyai ajang berkompetisi.

“Tidak saja atlet panjat tebing PON Bali, tetapi semua provinsi seperti itu, tidak ada ajang berkompetisi sehingga tidak tahu endurance dan kemampuan mereka. Nah dasar itulah kompetisi mini ini kami gelar,” ujar Putu Yudi Atmika dikutip perspectivesnews.com grup siberindo.co, Sabtu (3/4/2021).

Baca Juga  Tren Perkembangan Kasus Covid-19 Kota Denpasar Menunjukan Penurunan

Ditemui usai pembukaan kompetisi mini panjat tebing, Yudi Atmika mengatakan, yang diperlukan oleh pelatih adalah sejauhmana kemampuan atletnya memanjat, membaca jalur dan poin. Selain itu, lanjut dia, strategi dari pelatih juga menentukan berhasil tidaknya seorang atlet.

Lebih jauh dia mengatakan, Kompetisi Mini Panjat Tebing yang diprakarsai FPTI di Jawa dan Bali itu juga bukan untuk saling mengintip kekuatan lawan, di mana kompetisi yang dibuka Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwanti itu diikuti 12 provinsi yang merupakan barometer cabor panjat tebing Tanah Air.

Baca Juga  Erick Tohir Pastikan Kesiapan PLN Dukung Era Kendaraan Listrik

Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi menyerahkan tali seusai membuka Kompetisi Mini Panjat Tebing di Lintasan Panjat Tebing Alit Saputra Tabanan, Sabtu (3/4/2021).

“Panjang kaitannya kalau berbicara soal teknis karena menyangkut di antaranya latihan, pendampingan pelatih, ofisial dan timnya. Dan penentunya bukan atlet itu sendiri, melainkan banyak hal. Di sini untuk uji coba kemampuan atlet hanya memanjat saja,” kata Yudi Atmika.

Paling utama lajutnya, tak lain yakni bagaimana atlet itu menggunakan poin atau pegangan yang menempel di papan lintasan. Jika jarang menggunakan poin maka bakal kelabakan. Oleh karena itulah kalau menjadi tuan rumah event termasuk PON Papua nantinya, maka akan memperoleh peluang kemenangan karena sudah sering menggunakan poin itu.

Baca Juga  Sinergitas PWI-BI Berencana Gelar Uji Kompetensi Wartawan Angkatan VI

“Tapi tetap saja harus menguasai poin itu sendiri karena selalu dibuat baru dengan bentuk yang berbeda dan rahasia tidak boleh dicoba sebelum pertandingan. Intinya nanti atlet yang berlaga memiliki kemampuan membaca jalur, membaca poin dan mampu mengimbangi poin itu maka baru bisa unggul,” papar Yudi Atmika. (yus)

Komentar

News Feed