oleh

Orang Kikir Tidak Dapat Terlahir di Alam Surga

BALI.SIBERINDO.CO – Di tengah kehidupan yang semakin berorientasi pada kepemilikan, banyak orang menganggap kebahagiaan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa semakin besar kekayaan yang dimiliki, terkadang semakin berat pula hati untuk berbagi. Rasa takut kehilangan, keinginan menimbun, dan kebiasaan menghitung untung-rugi dalam setiap pemberian perlahan menumbuhkan sifat kikir.

Dalam ajaran Buddha, kekikiran (macchariya) bukan sekadar kebiasaan enggan memberi, melainkan noda batin yang mempersempit hati, menghambat kebajikan, dan menjadi penghalang menuju kebahagiaan yang lebih tinggi.

Sang Buddha menjelaskan akibat dari sifat kikir dengan sangat jelas dalam Dhammapada:

Maccharino ayaṃ loko, na dadāti samāhito; dānañca yo dadāti so, saggaṃ so upapajjati.

artinya: “Orang yang kikir tidak pergi ke alam para dewa. Orang-orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Tetapi orang bijaksana bersukacita dalam memberi, dan karena itu ia berbahagia di kehidupan berikutnya.” (Dhammapada 177).

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan di alam surga (devaloka) tidak diperoleh karena banyaknya harta, tetapi karena kebajikan yang dilakukan dengan hati yang tulus. Harta hanya menemani selama hidup di dunia, sedangkan karma baik dari perbuatan akan terus membawa manfaat bahkan setelah kehidupan ini berakhir. Karena itu, Buddha tidak mengajarkan agar kita meninggalkan kekayaan, melainkan menggunakannya dengan bijaksana.

Baca Juga  Terkait Dugaan Perselingkuhan Dokter dan Perawat, Ini Jawaban Pihak Rumah Sakit

Dalam Sigālovāda Sutta, beliau justru menasihati agar seorang perumah tangga menikmati hasil jerih payahnya sekaligus menggunakan sebagian kekayaannya untuk melakukan kebajikan (Dīgha Nikāya 31). Nasihat ini memperlihatkan keseimbangan yang indah. Bekerja dengan tekun merupakan tindakan yang benar, menikmati hasil usaha juga bukanlah kesalahan, tetapi keduanya menjadi lebih bermakna ketika disertai semangat berbagi kepada sesama. Dengan cara itulah, harta tidak hanya menjadi milik pribadi, tetapi berubah menjadi sarana menciptakan manfaat bagi banyak makhluk.

Lebih jauh lagi, Buddha mengajarkan bahwa nilai sebuah pemberian tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya jumlah yang diberikan. Dalam Aṅguttara Nikāya dijelaskan bahwa pemberian yang dilakukan dengan keyakinan (saddhā) memiliki buah kebajikan yang besar (Aṅguttara Nikāya 5.148).

Hal ini mengingatkan bahwa yang paling berharga adalah kualitas hati ketika memberi. Segelas air yang diberikan dengan kasih tulus dapat memiliki nilai spiritual yang jauh lebih besar daripada hadiah mewah yang diberikan demi mencari pujian. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menanam karma baik, tanpa harus menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Sebaliknya, sifat kikir sering kali muncul dalam bentuk-bentuk sederhana yang luput dari perhatian.

Baca Juga  Libur Panjang, Penjagaan di Pelabuhan Gilimanuk Diperketat

Ada orang yang enggan membantu tetangga yang sedang kesulitan, pelit berbagi pengetahuan karena takut tersaingi, berat meluangkan waktu untuk keluarga, atau bahkan sulit memberikan kata-kata yang menguatkan kepada mereka yang sedang berduka. Padahal, dalam pandangan Buddhis, dāna tidak terbatas pada materi. Memberikan tenaga, waktu, perhatian, ilmu, hingga memaafkan orang lain juga merupakan bentuk pemberian yang bernilai luhur karena semuanya lahir dari hati yang rela berbagi.

Kemurahan hati tidak hanya membawa manfaat pada kehidupan yang akan datang, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan yang dapat dirasakan sejak sekarang. Dalam Aṅguttara Nikāya disebutkan bahwa seorang dermawan akan lebih mudah memperoleh kepercayaan, memiliki hubungan yang baik dengan sesama, mendapatkan nama baik di tengah masyarakat, serta memiliki peluang terlahir di alam bahagia setelah meninggal dunia (Aṅguttara Nikāya 5.35). Ini menunjukkan bahwa dāna memiliki dua buah sekaligus yakni mempererat keharmonisan dalam kehidupan saat ini dan menjadi sebab bagi kesejahteraan pada kehidupan berikutnya.

Baca Juga  SMSI Ingin Bawa Angin Baru Dalam HPN 2021

Di era modern, praktik kemurahan hati dapat diwujudkan dengan cara yang sederhana namun bermakna. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu yang membutuhkan, mendukung kegiatan vihara, menjadi relawan, berbagi makanan, atau memberikan perhatian kepada orang tua dan sahabat merupakan latihan nyata untuk melemahkan kemelekatan terhadap diri sendiri. Semakin sering seseorang memberi dengan sukacita, semakin lapang pula batinnya. Perlahan-lahan, rasa takut kehilangan akan tergantikan oleh rasa syukur, dan kekikiran akan berubah menjadi kebiasaan berbagi yang menumbuhkan kedamaian.

Pada akhirnya, ajaran Buddha mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari kemampuan menimbun, melainkan dari keberanian melepaskan.

Kekikiran mempersempit hati dan menutup jalan menuju kebahagiaan yang lebih tinggi, sedangkan kemurahan hati membuka pintu persahabatan, ketenangan batin, dan kesempatan menanam benih kebajikan yang berbuah di masa depan. Ketika memberi dilakukan dengan keyakinan dan ketulusan, seseorang bukan hanya sedang membantu orang lain, tetapi juga sedang membentuk kualitas batin yang menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih bahagia, baik di dunia ini maupun di alam surga.(***)

 

News Feed